Kamis, 18 Januari 2018

Tahapan dalam Membangun Sebuah Jaringan Komputer


1. Pengantar
Kemajuan teknologi memaksa kita untuk memilih mau mengikutinya, atau malah terlindas oleh jaman. Pernyataan tersebut tidak terbatas pada siapapun atau apapun. Termasuk beberapa instansi atau tempat kerja yang mengharuskan mereka untuk terintegrasi satu sama lain. Suatu contoh, perusahaan DEF mempunya 2 kantor yang berbeda lokasi. 2 kantor tersebut harus saling bertukar data selama 24 x 7 non-stop. Nah, disinilah jaringan komputer dapat dimanfaatkan. Atau contoh lain, misalkan sebuah sekolah membuat sebuah laboratorium yang di dalamnya seluruh komputer harus terhubung dengan internet.
Semua contoh di atas mengimplikasikan jaringan internet. Dan tentunya, pasti melibatkan perancang/teknisi/jasa jaringan.

Permasalahan yang sering terjadi adalah banyak orang yang paham mengenai jaringan tapi tidak pernah merencanakan secara matang dalam membangun jaringan tersebut. Dampak paling fatal adalah tidak efesiensinya jaringan yang dibangun yang kemudian berakibat pada penggunaan biaya proyek. Ingat ya, tidak efisien. Bukan tidak efektif. Dengan kata lain, pembangunan jaringan yang sudah dibangun masih bisa berjalan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan sebuah skema perancangan yang lebih sistematis, sehingga dapat mengurangi efek yang tidak diinginkan (e.g biaya atau kesalahan konfigurasi)

2. Tahapan membangun jaringan
Tahapan ini mirip sekali dengan langkah-langkah yang dilakukan saat developing sebuah software (System Development Life Cycle – SDLC). Karena ini sifatnya tahapan, maka setiap poinnya harus dikerjakan secara runtut sehingga dapat terbentuk sebuah desain/pembangunan jaringan yang efektif dan efisien. Berikut adalah tahapan yang harus diambil, diantaranya:

a.Mengetahui kebutuhan pengguna (user)
Untuk memenuhi tujuan dan target dari keinginan user, sebagai seorang network engineer harus pandai menggali informasi yang dibutuhkan. Sebisa mungkin gunakan framework (kerangka kerja) untuk mewancarai pengguna, misalnya digunakan untuk apa jaringan tersebut, berapa ukurang ruangan, dan lain sebagainya. Seluruh penjelasan yang diungkapkan dari pengguna akan menjadi bekal untuk langkah-langkah berikutnya.

Beberapa pelanggan pasti ada yang menginginkan spesifikasi yang jauh lebih tinggi, padahal jika dilihat pengaplikasian jaringannya, spesifikasi yang dia inginkan sangat jauh melebihi. Contohnya adalah: Sebuah kantor kecil memiliki 10 komputer yang harus saling terhubung. Beban maksimal dari masing-masing komputer adalah 1MBps. Switch yang cocok digunakan seharusnya mempunyai jenis kecepatan FastEthernet (100MBps). Tapi, manager kantor malah meminta yang Gigabit (1GBps). Selisih harga dari kedua barang tersebut sangat jauh, bahkan bisa jadi lebih dari separuhnya. Apabila bertemu dengan pelanggan yang seperti itu, alangkah baiknya jika diberikan pengarahan kenapa seharusnya dia tidak membeli perangkat tersebut.

Permintaan pelanggan harus didokumentasikan dengan baik dan gamblang agar tidak diintepretasikan dengan salah oleh teknisi jaringan. Selain itu, dokumentasi ini berfungsi untuk merekam permintaan pengguna agar jika dikemudian hari terjadi perbadaan antara permintaan pengguna dengan hasil yang telah dikerjakan maka teknisi jaringan dapat menyangkalnya.

b. Survey kondisi lapangan
Deskripsi dari pelanggan tidaklah cukup untuk digunakan sebagai dasar membangun jaringan. Bagaimanapun datang langsung ke titik lokasi akan sangat membantu. Survey lokasi dapat digunakan sebagai gambaran nyata bagaimana sebuah jaringan akan dibangun, topologi apa yang dipakai atau alat yang digunakan, tata letak perangkat, line of sight (LOS) dan pertimbangan lainnya

c. Mendesain topologi
Banyak terjadi salah kaprah terutama di dunia pendidikan, bahwasanya topologi hanya sebatas desain dasar (framework) dari infrastruktur jaringan seperti bus, ring star, dan lain-lain. Padahal kenyataannya tidak. Berdasarkan Wikipedia, topologi jaringan adalah sebuah rancangan atau susunan dari berbagai elemen (perangkat jaringan, jalur/link jaringan, dll) komunikasi jaringan.
Topologi dibagi menjadi 2, diantaranya physical topology (topologi fisik) dan logical topology (topologi logis).
Topologi fisik meliputi segala sesuatu yang sifatnya nyata. Misalkan penempatan perangkat, instalasi kabel, jenis perangkat yang digunakan atau bisa juga gambaran infrastruktur wireless.
Sedangkan topology logis biasanya berisi konfigurasi, software yang digunakan, atau jenis aliran data. Misalnya, sistem operasi yang digunakan, protokol yang berlaku, alokasi IP address, dan lain sebagainya.
Topologi harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi aslinya. Inti dari kualitas jaringan ada pada seberapa bagus rancangan topologinya, karena topologi akan menggambarkan seluruh rancang bangun dan infrastruktur jaringan. Bisa dikatakan topologi merupakan cetak biru (blueprint)

d. Merencanakan Kebutuhan alat
Setelah tahap desain selesai, langkah selanjutnya adalah menentukan alat. Beberapa vendor telah menyediakan berbagai perangkat jaringan dengan kualitas dan fitur masing-masing. Namun seperti yang diketahui, bahwasanya kelebihan-kelebihan tersebut jelas mempunyai harga yang selalu berbanding lurus.
Jadi, barang yang murah nggak bisa dipake dong? Tidak sepenuhnya benar. Barang murah, bukan berarti tidak mempunyai nilai guna. Hanya saja, mungkin dari segi fitur dan kualitasnya berkurang. Contoh kasus, terdapat kabel UTP dengan merk A dan B. Harga kabel A jauh lebih murah dari pada kabel B. Pada jarak 20-30 meter semua kabel berjalan dengan baik, namun pada jarak 40-50 meter kabel A mengalami loss yang sangat signifikan. Jika dilihat dari kasus ini bukan berarti kabel A tidak layak pakai , hanya saja perlu penyesuaian saja. Tidak salah jika nanti kabel A dipilih jikalau jarak antar titik tidak melebihi 20-30 meter.

e. Konfigurasi
Konfigurasi sangat bergantung pada tahapan sebelumnya, terutama pada kebutuhan user. Jadi jangan melakukan konfigurasi tambahan jika tidak diminta user, walaupun seharusnya itu bisa jadi nilai tambah.
Contohnya, pada sebuah cafe terdapat jarinan internet. Jaringan tersebut diperuntukan bagi pelanggan. User hanya minta bandwidth pada jaringan tersebut dibagi secara merata. Idealnya, sangat bagus jika jaringan tersebut mengaktfikan hotspot. Namun karena user tidak meminta, maka jangan tambkan fitur tersebut.
Kecuali memang dari segi keamanan. Bagaimanapun juga, tetap harus ditambahkan karena hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas pelayanan.

f. Pengujian
Setelah tahap-tahap diatas dilakukan, perancangan jaringan dapat dianggap telah selesai. Langkah terakhir adalah menguji jaringan.
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah desain yang dibangun sudah sesuai dengan permintaan pengguna yang sebelumnya telah terdokumentasi. Jika sudah sesuai, maka teknisi jaringan dapat melakukan presentasi.

Besar kemungkinan apa yang diinginkan pengguna saat teknisi melakukan presentasi mengalami perbedaan. Perbedaan ini dapat dikatakan sebagai revisi dan sangat pantas jika teknisi meminta biaya tembahan. Karena keinginan awal dari pengguna yang sudah terdokumentasi, berbeda dengan keinginan 

g. Troubleshooting dan Maintenance
Saat melakukan pengujian, adakalanya terjadi masalah. Masalah tersebut dapat datang dari segala aspek, baik dari konfigurasi yang tidak sama dengan topologi, perangkat yang tidak mumpuni atau bahkan subtitusi perangkat yang tidak sesuai (misal switch A tidak tersedia dan diganti dengan switch B).
Sangat disarankan membuat sebuah framework troubleshooting saat merancang sebuah jaringan. Framework ini nantinya akan menjadi sebuah acuan ketika terjadi masalah.
Maintenance lebih dikenal sebagai perawatan rutin. Maksud dari perawatan rutin bukanlah penggantian perangkat secara berkala, namun lebih kearah pemantauan dan monitoring kinerja jaringan. Hal ini perlu dilakukan karena menyangkut kenyamanan pelanggan.
Maintenance bertujuan agar apabila terdapat sebuah gejala kerusakan jaringan, maka teknisi dapat langsung melakukan backup dan recovery sebelum kerusakan tersebut benar-benar terjadi. Sehingga pengguna tidak sampai merasakan permasalahan jaringan.

3. Kesimpulan
Untuk membangun sebuah jaringan, tidak hanya sekedar membangun dan membeli alat saja. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi efektifitas dan efisiensi dari jaringan tersebut. Perlu perencanaan yang sangat matang, sehingga jaringan dapat bekerja sesuai permintaan pengguna. Beberapa tahap yang perlu dilalui diantaranya adalah:
a. Mengetahui kebutuhan user
b. Survey kondisi lapangan
c. Desain topologi
d. Merencanakan kebutuhan alat
e. Mendesain topologi
f. Pengujian
g. Troubleshooting dan Maintenance
Dengan tahapan-tahapan diatas, pembangunan jaringan dapat dilakukan secara maksimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar